10. Menang atas 8 Ujian Hidup

10. Menang atas 8 Ujian Hidup

Amsal 10:14: Orang bijaksana menghimpun pengetahuan; jika orang bodoh berbicara, ia memancing kecelakaan (BIS)


Pernah dengar istilah ‘manusia sertifikat’? istilah ini muncul akibat banyaknya mereka yang hanya mementingkan gelar dan sertifikat tanpa ilmu, skill, kompetensi, dan juga karakter personalnya. Manusia pembelajar, menunjuk pada pemikiran James R Davis dan Adelaide B Davis, mencintai hal-hal baru, pemikiran baru, dan keterampilan baru. Ia belajar bukan hanya untuk mengetahui, tetapi lebih dari itu untuk berpikir dan memecahkan masalah. Manusia pembelajar belajar dan mengembangkan ilmu tak hanya dari bangku kuliah dan text book, tapi juga pengalaman dan dari realitas kehidupan sebenarnya. R Davis menyebutnya dengan istilah perpetual learner (pembelajar sejati). (Lihat, Managing Your Own Learning: 2000). Mereka datang ke seminar tak mengharap ilmu. Ia hanya mengejar dan perlu sertifikatnya saja. Begitu juga kalau kuliah. Ia mendaftar dan bayar, tetapi tidak kuliah karena yang dicari bukan ilmu, tetapi gelar dan sertifikat. 


Lantas dalam bincang-bincang dengan seorang teman, beliau adalah seorang developer perumahan, dia berkata dulu sewaktu merekrut karyawan, dia memakai ijazah sebagai prasyarat. Tetapi semakin kesini, maksudnya sekarang ini dia tidak lagi melihat ijazah sebagai sebuah syarat mutlak, tapi dia gunakan pengalaman kerja. Rupanya sewaktu merekrut karyawan, dan dibalik sederetan gelar yang dipakai menghias nama, prakteknya di lapangan nol alias seng ada apa-apa, kata orang Ambon. 


Saya selalu mempercayai bahwa proses lebih penting dari hasil.

Betul atau tidak, percaya atau tidak, segala hasil yang dicapai harus melalui proses dulu. Les bagi Ken-ken adalah penderitaan, begitu juga anak-anak lain seusianya. Air muka nya menunjukkan perasaan tidak suka dan tidak senang bila saat les tiba. Namun dengan lembut dan ramah saya memberitahu dia bahwa les dan kegiatan tambahan (additional) lainnya, adalah proses menuju impiannya. Yang terakhir ini sampai sekarang saya masih harus terus memastikannya karena impian atau cita-citanya sangat fleksibel alias mudah berubah. 2 tahun lalu dia ingin menjadi Pengusaha. Tahun kemarin cita-citanya berubah ingin menjadi pilot gara-gara saya membawa miniatur pesawat Air Asia sebagai oleh-oleh. Awal tahun lalu dia ingin menjadi Pendeta, mungkin Karena gereja telah menjadi rumah keduanya. Barangkali penglihatannya akrab dengan profil pendeta. Gembalanya adalah pendeta, Kungkung atau kakeknya adalah Pendeta, Ayahnya pun seorang pendeta muda. Rapot di sekolah juga menunjukkan nilai Agama Kristennya paling menonjol dibanding pelajaran lainnya. Entahlah, saya hanya orang tua sekaligus pelatih yang mengarahkan Kenneth. Mendorong dia tetap semangat belajar. Memberi semangat agar tetap rajin les, menghidupkan impian-impiannya dalam pikirannya. Saya anggap itu proses. Sebab sekarang ini saya jadi bisa menerawang mengingat masa-masa sekolah dulu. Dipaksa sekolah, les, mengerjakan tugas-tugas, bikin PR, kegiatan sana-sini yang begitu melelahkan. Namun semua itu tentu saja sangat beguna kelak. Proses harus menjadi pembelajaran setiap orang. Karena Tuhan mengijiankan proses bagi setiap orang untuk maksud naik ke level atau tingkatan berikutnya.


Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal  yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami (2 Korintus 4:17)

Saya menyebut proses adalah ujian. Ujian membutuhkan ketahanan dan keteguhan hati. Demikian dengan proses yang juga membutuhkan kesabaran & keteguhan yang sama. Ada beberapa contoh dari ujian yang sering dilalui manusia:


1. Ujian waktu


Waktu dapat menjadi musuh sekaligus sahabat. Menjadi musuh ketika waktu menjadi beban. Padahal waktu dapat menjadi sahabat yang baik ketika kita dapat mengisinya dengan bijak


Pemazmur mengatakan: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana”. Memulai hari dan mengakhirinya dengan baik, membutuhkan sikap hati yang bijaksana. Proses waktu atas hidup seseorang sebenarnya merupakan proses Tuhan untuk maksud Tuhan yang baik. Banyak manusia menolak dan bermusuhan dengan rencana Allah karena tidak sabar dengan proses tersebut. Padahal buah dari kesabaran itu mendatangkan hasil-hasil besar yang luar biasa 


Yusuf menunggu 13 tahun untuk merealisasikan mimpinya

Abraham menunggu 25 tahun untuk Ishak lahir

Kaleb menunggu 45 tahun untuk mewarisi hebron

Lazarus menunggu 4 hari untuk kebangkitannya

Daud menunggu 13 tahun untuk menjadi raja


2. Ujian Firman Tuhan

 

Firman Tuhan dapat menjadi rambu-rambu dalam hidup kita. Firman-Mu adalah pelita bagi kakiku, dan terang bagi jalanku (Mzm 119:105)

Firman Tuhan seringkali menemplak dan menegur kita. 

Aku akan memelihara ketetapan-ketetapan-Mu, jangan sama sekali pernah meninggalkanku.

Bagaimana orang muda dapat memelihara jalannya yang bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan perkataan-Mu (Mazmur 119:8,9)


3. Ujian Karakter

John Maxwell: Kharisma dan kapasitas dapat membawa orang naik dalam tangga kepemimpinan, tetapi hanya karakter yang dapat mempertahankannya. 


W.J.S Poerwadarminta menyebutkan karakter sebagai, “tabiat; watak; sifat-sifat kejiwaan atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lainnya” (Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka: Jakarta)


1. Meneladani Karakter Allah


Studi tentang karakter seharusnya dimulai dari Allah, karena hanya Allah saja yang memiliki karakter yang sempurna. Karena itu beberapa teolog lebih suka memberi judul “Kesempurnaan Allah” ketika membahas tentang sifat-sifat Allah dalam buku teologi mereka. Kesempurnaan Allah ialah totalitas dari sifat-sifat atau karakter Allah sebagaimana dinyatakan Alkitab. Seluruh sifat (karakter) Allah menyatakan kesempurnaan Allah! Para teolog sepakat bahwa ada beberapa karakteristik yang hanya dimiliki oleh Allah saja. Para teolog menyebutnya sebagai karakter Allah yang tidak dapat dikomunikasikan dan melekat hanya pada Allah. Sedangkan beberapa karakteristik lainnya ditularkan kepada manusia yang diciptakan secitra dengan Allah. Para teolog menyebutnya sebagai karakter yang dapat dikomunikasikan. 


Siapa orang yang kita kagumi akan mempengaruhi hidup kita. Bisa jadi kualitas umum pada orang yang kita kagumi tersebut adalah karakter atau sifat-sifat yang ada padanya. 

Ketika Allah menyatakan diriNya kepada Musa sebagai Allah yang penuh dengan kemurahan dan belas kasihan, yang tidak lekas marah, yang berlimpah-limpah kasih setiaNya, dan yang tetap mengasihi beribu-ribu keturunan serta yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa, maka Allah menyatakan dengan sangat jelas bahwa karakter pribadiNya adalah standar yang mutlak: Dengan standar tersebut semua sifat ditetapkan. Allah tidak bertanggung jawab terhadap siapapun, dan tidak ada standar lain yang lebih tinggi yang harus diikutiNya. KarakterNya yang kekal dan tanpa kompromi adalah standar yang tak dapat berubah yang kemudian memberikan arti terdalam dari kasih, kemurahan hati, kesetiaan, dan kesabaran. 


2. Membangun Karakter Allah di dalam Kita


Beberapa dari karakter Kristen yang disebutkan dalam Alkitab harus dikembangkan dan ditampilkan oleh setiap orang Kristen, yaitu : 


1. Integritas (Titus 1:7-9), 

2. Kerendahan hati (Matius 5:1-7; Markus 10:14-15; 1 Timotius 3:6), 

3. Kasih dengan segala karakteristiknya (Matius 22:37-39; 1 Korintus 13), 

4. Melayani dan menolong (Lukas 10:25-37), 

5. Kekuatan dan kebenaran batiniah (Lukas 11:37-53; 12:15; Yohanes 16:33), 

6. Hubungan yang erat dengan Kristus (1 Timotius 6:11; 2 Timotius 2:22; Yohanes 15:1-8), 

7. Sukacita (Yohanes 17:13), 

8. Kekudusan (Yohanes 17:16; 2 Timotius 2:22), 

9. Damai ( 2 Timotius 2:22), 

10. Sabar dan tekun (1 Timotius 6:11; 2 Timotius 3:10), 

11. Lemah lembut (1 Tomotius 6:11; 2 Timotius 2:25), 

12  Penguasaan diri (1 Timotius 3:2; Titus 1:8), 

13. Tidak tamak dan tidak suka bertengkar (1 Timotius 3:2-3; 6:10-11), 

14. Serta kualitas lainnya dalam 2 Petrus 1:5-8, seperti : kebajikan, pengetahuan, ketekunan, dan kesalehan.


Penulis Denis Waitley berkata, “Keunggulan seorang pemenang bukan keuntungan sejak lahir, kecerdasan, atau bakat. Keunggulan seorang pemenang adalah sikapnya, nukan kecerdasannya 


4. Ujian Motivasi


Menjdaga supaya motivasi tetap munrni adalah bukan dengan menyembunyikan diri, jauh dari keramaian, jauh dari peralatan elektronik, media, sosial, sehingga tidak mudah terpegaruh. Saya rasa bukan itu. Justru ketika iman kita ‘bertubrukan’ dengan tantangan-tantangan tadi, maka disitulah ujian sebenarnya terjadi. Disitulah ujian motivasi yang sebenarnya. 


5. Ujian Padang Gurun

Ada satu periode atau masa dalam hidup kita dimana kita mengalami hidup yang berat dan membosankan. Pelajaran bangsa Israel mengembara di padang gurun sebenarnya jadi pelajaran penting bahwa setiap orang akan masuk dalam padang gurun masing-masing.


Ribuan orang ditewaskan dipadang gurun, Kaleb dan Yosua menyelesaikannya sampai akhir. Ujian padang gurun merupakan salah satu ujian tersulit. Tentu saja kalau kita tidak tahu caranya. Tapi kalau kita dapat bertahan sampai akhir, tentulah kita keluar sebagai pemenang


Bangsa Israel mengalami padang gurun 40 tahun; Yesus menyelesaikannya 40 hari. Semua ditewaskan kecuali Kaleb dan Yosua, Yesus keluar sebagai Pemenang setelah kalahkan Iblis 


6. Ujian Salah Pengertian


Disalahmengerti, disalahartikan, disalah-salahin, difitnah, dan lainnya, pasti pernah kita alami. Yang terpenting adalah hati nurani kita ketika melakukannya. Dalam pelayanan musik seringkali saya menemukan hal ini. Worship Leader yang disingkat WL kadang-kadang tidak puas dengan performa kami pemain music. Bahkan pengkhotbah seringkali tidak puas dengan sesi pujian penyembahan (sebelum khutbah). Itu hal lumrah menurut saya. Disuruh tukar posisi, stop mengiringi sampai disuruh turun dari panggung pun pernah saya alami. Apakah kemudian saya pensiun jadi pemain (imam) musik hanya gara-gara hal tersebut? Tidak. Kuncinya adalah melakukannya dengan segenap hati seperti untuk Tuhan bukan untuk manusia (Kolose 3:23). Sehingga ketika disalahartikan, saya hanya tersenyum dan stay focus.


7. Ujian Kesabaran


Kesabaran erat kaitannya dengan kemampuan mengelola emosi.

Sabar itu bukan produk dari pengetahuan

Sabar itu bukan produk dari Pendidikan

Sabar itu hanya dari iman. Artinya ketika kita sabar, maka iman akan berpadu dengan kekuatan Allah, sehingga kita akan memiliki kemampuan untuk tetap teduh ditengah gelombang yang berkecamuk


8. Ujian Kegagalan


Don B. Owens Jr berkata:

Banyak orang Gagal dalam hidup Karena mereka percaya akan peribahasa: “Kalau Anda tidak sukses, cobalah sesuatu yang lain.” Akan tetapi, sukses menjauhkan diri dari orang yang mengikuti nasihat seperti ini. Impian yang menjadi kenyataan terjadi Karena orang bertahan pada ambisi mereka. Mereka menolak untuk menyerah. Mereka tidak pernah membiarkan kekecewaan menguasai. Tantangan hanya memacu mereka untuk berusaha lebih keras


pastedGraphic.png


Komentar

Postingan populer dari blog ini

19. Mengapa Kemenangan Harus Menjadi milik Saya

4. 3 Prinsip Sederhana Dari Hikmat

29. Prinsip Keadilan serta keamanan adalah meterai Raja.