12. Mengubah Kutuk Menjadi Berkat
12. Mengubah Kutuk Menjadi Berkat
Amsal 12:6 Bodohlah yang menyatakan sakit hatinya seketika itu juga, tetapi bijak, yang mengabaikan cemooh.
“Saya mau resign pak”!, Saya tidak terima dengan perlakuan ini. Saya keluar!;
“Saya tidak percaya dengan kebijakan pemimpin yang baru itu. Cepat suruh dia keluar atau saya yang keluar!”.
“Saya tidak setuju dengan keputusan ini. Saya keluar!”;
“Saya benci papa mama, saya mau pergi!”
“Saya benci dengan peraturan baru ini. Saya muak melihat mukanya!”
“Saya lelah dengan semua ini. Kita akhiri saja hubungan ini!.”
“Saya Lelah, capek, Pusing, Sudahlah, kita sudahi saja semua ini!.
“Saya tahu ini harus terjadi. Tapi saya tidak sanggup terima keadaan ini!”.
“Lebih baik saya mati saja! Supaya semua senang. Saya mau bunuh diri!”
“Saya mau … saya mau …. Saya mau ….!!”
Pasti Anda pernah dengar kalimat-kalimat ini. Atau jangan-jangan Anda sedang mengalaminya. Paling tidak Anda pernah mengalaminya. Syukur kalau Anda belum pernah mengatakannya, Karena ini adalah kalimat-kalimat rendahan yang berasal dari Neraka. Kalimat-kalimat mematikan yang berujung maut.
ELIA pernah mengalaminya. Permintaan Elia begitu ekstrim layaknya bukan hamba Tuhan. Elia minta mati. 1 Raja-raja 19:4b: ….Katanya, "Cukuplah sekarang, ya TUHAN! Ambillah nyawaku, sebab aku tidak lebih baik dari nenek moyangku."
ABRAHAM depresi Karena keturunan. (Abram menjawab: "Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu. "Lagi kata Abram: "Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku." (Kejadian 15:2-3)
YUNUS. Yunus 4:3,8 : Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup." Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: "Lebih baiklah aku mati dari pada hidup."
AYUB. Ayub 3:25: Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul."
YEREMIA. Mengapa gerangan aku keluar dari kandungan, melihat kesusahan dan kedukaan, sehingga hari-hariku habis berlalu dalam malu? Yeremia 20:7
DAUD. Mazmur 38:6-9
Luka-lukaku berbau busuk, bernanah oleh karena kebodohanku;
aku terbungkuk-bungkuk, sangat tertunduk; sepanjang hari aku berjalan dengan dukacita. Sebab pinggangku penuh radang, tidak ada yang sehat pada dagingku;
aku kehabisan tenaga dan remuk redam, aku merintih karena degap-degup jantungku.
Mazmur 32:3-4
Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari;
sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas.
Mungkin masih banyak yang bisa kita daftarkan dari tokoh2 Alkitab yang mengalami krisis perasaan, tetapi mereka juga mau menunjukkan bagaimana mereka bisa mengelola perasaan mereka dan menang dari situasi tersebut. Sebagai contoh salah satu tokoh Alkitab yang saya suka, Yusuf. Bila melihat napak tilas hidupnya, yusuf punya banyak alibi untuk menolak atau kecewa dengan masalah yang terjadi. Tapi Yusuf punya kemampuan untuk mengelola emosi nya. Yusuf memilih untuk tetap percaya akan visi dari masa mudanya, dibanding kecewa dan protes dengan keadaannya.
AYUB jelas mahir mengelola sakit hatinya. Tekanan dari teman, keluarga, sangat mungkin membuat Ayub terpengaruh. Belum lagi ‘musuh dalam selimut’, Isti nya. Tetapi Ayub benar-benar bisa keluar dari tekanan tanpa keluarkan sumpah serapah atau sungut-sungut apapun. Pasal 32 dari kitab Ayub adalah bukti bagaimana Ayub menang dan melihat hasil dari ketaatannya.
Komentar
Posting Komentar