14. Bersyukurlah Dalam Kemenangan

14. Bersyukurlah Dalam Kemenangan

Amsal 14:9: Orang bodoh mencemoohkan korban tebusan, tetapi orang jujur saling menunjukkan kebaikan. 

Orang bodoh tidak peduli apakah dosanya diampuni atau tidak; orang baik ingin diampuni dosanya.


Bodoh ejekan benar dan salah, tetapi kehidupan moral kehidupan disukai.

Yang mempersatukan orang-orang jahat ialah niat jahat mereka. Yang mempersatukan orang-orang benar ialah itikad baik mereka.


Waktu mertua akan tindak untuk pemasangan ring di jantung, saya ikut mengantar ke rumah sakit. Semuanya berjalan lancar sampai masalah baru muncul. Keluarga pasien yang menunggu hanya diperbolehkan satu. Sedangkan saya dan ibu mertua adalah keluarga pasien. Walaupun ada anggota keluarga yang kenal dengan dokternya, tetap saja prosedur harus dihormati. Benar begitu kan!?. Saya punya satu masalah kalau tidur dengan orang lain, saya yang tidak bisa tidur atau saya membuat orang tidak tidur. Ngorok. Orokan saya tergolong parah. Tapi salut buat istri saya, 13 tahun menikah, dia sudah akrab dengan orokan saya. Malah katanya kalau tidak bunyi dia merasa ada yang kurang. Waduh. 


Maka kemudian saya pun berselancar. Dapat penginapan mulai dari kos-kosan sampai penginapan murah. Dari petugas kantin saya dapat informasi kalau ada akses menuju belakang rumah sakit. Saya pun kesana dan benar saja, kos-kosan bertebaran sini sana. Saya ingin pastikan biarlah papa dan mama tetap dikamar yang sama dan saya menyingkir. Setelah ngobrol dengan pemilik kost, maka pun resmi mennginap disana.


Spek yang ditawarkan termasuk murah meriah. Bayangkan, untuk kamar seharga 150 ribu, sudah pakai Ac dan kamar mandi di dalam. Walaupun semalam-malam itu saya bolak-balik menyesuaikan diri butuh adaptasi. Lumayan itu kata yang cocok untuk harga 150 ribu. Saya bisa hidupkan Ac 24 jam dan kunci kamar bisa saya bawa sesuka hati. Pergi pagi dan pulang malam. Sedangkan di hotel, Anda cabut kunci kamar dan klik! Semua lampu langsung padam. Dulu saya masih bisa ganti kunci kamar (kartu) dengan menyelipkan kartu atm, atau kartu lainnya, sekarang tidak lagi. Entah dengan hotel lain. Yang ini tidak. Hanya untuk dua hari jadilah. Keuntungan berikut adalah penginapan ini terletak di tengah-tengah perkampungan. Benar-benar kampung ala Jakarta. Tidak ada sawah, ternak, atau ladang. Yang ada hanya gang sempit, rumah-rumah tanpa halaman, dan lalu Lalang atau hilir mudik orang-orang.


Sewaktu sedang menyeret tas koper, saya merenung bahwa seringkali saya perlu suasana seperti ini. Ditengah-tengah hiruk pikuknya kota Jakarta ini, ada sisi lain dimana saya menemukan orang-orang yang berjuang mengais rejeki, tinggal di sela-sela kecil daripada bangunan-bangunan raksasa yang menjulang hanya untuk bertahan hidup. Ada warung kecil disebelah tempat penginapan. Saya duduk minum kopi sambal bincang-bincang dengan pemilik kedai, seorang bapak berumur sekitar 60 tahun yang menempati rumah seadanya. Saya menyapu mata saya dan mendapati ruang tamu yang sempit, istri dan seorang anak perempuan umur 20 an sedang mennyiapkan lauk untuk di jual di kedai muliknya yang sederhana. Saya yakin kehidupan yang serba pas-pasan hanya untuk menyambung hidup masih banyak bertebaran di ibu kota ini. Hhhhhhh …. Saya menarik nafas panjang, melihat kelangit-langit kamar sambil kepala menyilangkan tangan yang ditindih kepala. Mungkin masih banyak pemandangan lain yang lebih memprihatinkan. Untuk masalah kehidupan sehari-hari mereka masih bergumul, apakah ada kesempatan mencari Tuhan? Apakah mereka masih butuh Tuhan? Apakah Tuhan ada ditengah-tengah teriak minta tolong? 


Sejenak saya bandingkan dengan kehidupan di Palembang, tempat tinggal saya, saya masih bisa bersyukur Karena ada banyak kekurangan dan kelebihan yang saya bandingkan dengan kondisi saaat itu. Saya terharu dengan pemeliharaan Tuhan sejauh ini. 


Sebuah bait lagu melintas “…Hanya air mata tanda sukacita …. Mengalir dihidupku. Ku bersyukur, kubersyukur, atas kebaikanMu, Yesus. Kubersyukur … kubersyukur, atas kasih setiaMu”.

Bila mencoba membandingkan, rasa-rasanya saya tidak punya kemampuan memilih, Karena ada wajah lain diluar sana yang mungkin lebih baik dari Palembang maupun Jakarta sekalipun. Diam-diam saya berdoa dan bertekad dalam hati bahwa dimanapun saya berada, saya akan tetap bersyukur akan nikmat Tuhan, dan biarlah saya bisa menjadi berkat, menjadi   teladan, menjadi saksi dan alat Tuhan dimanapun berada.   


Ralph Waldo Emerson mengatakan bahwa jika saja bintang-bintang muncul di langit hanya sekali dalam setahun, pastinya manusia akan terus terjaga sepanjang malam menanti-nantikan kesempatan itu tiba. Namun Raplh mengamati bahwa kita sudah terlalu sering menyaksikan bintang itu, sehingga kita sudah merasa terbiasa dengannya. Hal serupa juga kita alami jikalau kita terbiasa dengan berkat-berkat yang kita terima, sehingga kita bisa kehilangan rasa syukur.


pastedGraphic.png


Komentar

Postingan populer dari blog ini

19. Mengapa Kemenangan Harus Menjadi milik Saya

4. 3 Prinsip Sederhana Dari Hikmat

29. Prinsip Keadilan serta keamanan adalah meterai Raja.