20. Tiga kunci bagaimana Sportivitas Iman memenangkan segalanya
20. Tiga kunci bagaimana Sportivitas Iman memenangkan segalanya
Amsal 20:10: Dua macam batu timbangan, dua macam takaran, kedua-duanya adalah kekejian bagi TUHAN.
Kita harus menjadi seseorang yang dimana perkataan dan perbuatan searah atau garis lurus. Hal ini juga harus tercermin ketika kita berbicara tentang kehidupan. Kehidupan Kristen harus bisa dipercaya karena kita dalah suratan yang terbuka yang bisa dibaca semua orang. Tidak ada dualisme hehidupan. Di dalam gereja haruslah juga sama diluar gereja. Di dalam gereja haruslah juga sama dengan di rumah. Caranya adalah menjaga sportivitas Iman. Tiga kunci bagaimana Sportivitas Iman memenangkan segalanya:
Bertanding dalam pertandingan yang benar. Dalam pelayanan tidak boleh saling sikut menyikut. Diparkiran, berikan parkir Anda kepada orang yang sedang susah mencari parkir, khususnya Anda adalah pelayan dan dia adalah jemaat. Dahulukan yang tua dalam mencari tempat duduk, bila perlu Anda yang mudah membantunya supaya duduk dengan nyaman. Tidak perlu berebutan keluar dari ruang ibadah, budayakan antri dengan rapi. Sebagai sesama gereja, jangan saling mencuri domba. Jangan juga mengail di air keruh. Bila Anda merasa pelayanan Anda perlu di evaluasi, rendah hati lah untuk menerima masukan,
Tidak Offside. Dalam bertanding, patuhi aturan main dalam pelayanan. Jaga etika sebagai seorang pelayan. Jadilah teladan dan panutan yang seharusnya. Jangan asal sembarang memukul. Berlatihlah sampai Anda tahu persis bagaimana bertanding dengan benar. Lakukan dengan professional, full skill, jangan setengah-setengah atau ogah-ogahan. Ikuti aturan bila Anda kena tegoran. Patuhi dan besar hati.
Tepat Sasaran . Kenali tujuan Anda bertanding, Fokus pada tujuan bukan hambatan, tantangan, ancaman, atau gangguan. Bertanding dengan sepenuh hati. Skor akhir bukan segalanya, tindakan Anda yang benar itulah segalanya
Sikap kita untuk berkompromi dengan dunia, menunjukkan bahwa kita bukanlah pengikut Kristus yang sejati. Mereka seperi orang yang berteiak Hosana … Hosana … tapi juga Salibkan Dia! Salibkan Dia.
Sementara itu Petrus pun dengan berani mengeluarkan sebuah pengakuan berani nan kudus dihadapan Yesus dengan berkata bahwa diriNya adalah Mesias, Anak Allah yang hidup
Matius 16:13-20
Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?"
Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi."
Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?"
Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!"
Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.
Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.
Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."
Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapapun bahwa Ia Mesias.
Pengakuan Petrus ini tidak diikuti dengan fakta bahwa dia seharusnya membuktikan perkataannya………
Matius 26: 69-75:
Sementara itu Petrus duduk di luar di halaman. Maka datanglah seorang hamba perempuan kepadanya, katanya: "Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Galilea itu."
Tetapi ia menyangkalnya di depan semua orang, katanya: "Aku tidak tahu, apa yang engkau maksud."
Ketika ia pergi ke pintu gerbang, seorang hamba lain melihat dia dan berkata kepada orang-orang yang ada di situ: "Orang ini bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu."
Dan ia menyangkalnya pula dengan bersumpah: "Aku tidak kenal orang itu."
Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ datang kepada Petrus dan berkata: "Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, itu nyata dari bahasamu."
Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: "Aku tidak kenal orang itu." Dan pada saat itu berkokoklah ayam.
Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: "Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.
Penyesalan selalu datang terlambat. Setelah menyadari kesalahannya, Petrus segera berlalu sambal menangis
Penyangkalan Petrus sempat membuat saya menggarisbawahi cerita diatas dengan kisah yang terjadi baru-baru ini. Saya sedang mencuci mobil. Tepatnya saya berada di tempat pencucian mobil pagi itu. Di bilik tunggu (waiting Room), saya buka laptop dan mulai mengetik. Karena cukup pagi, baru saya seorang penghuni ruangan tsb. Sambil mengetik, seseorang masuk dengan motornya. Segera dia bergabung diruang tunggu. Karena hanya berdua, saya urung membuka percakapan. Selain umurnya lebih tua, asik bertelpon ria, saya pun berpikir sedang ngetik. Tidak usah lah urusin orang, pikir saya. Ya sudah. Saya lanjutkan mengetik. 10 menit kemudian seorang pria masuk. Saya memandangnya dari sudut mata saya. Bahasa polosnya, pura-pura tidak lihat. Dia langsung menyapa bapak tua itu, salaman dan langsung ke arah saya. Sodorkan tangan dan salaman sambil perkenalkan diri. Saya hanya tersenyum, mengangguk dan melanjutkan mengetik.
Sambil mengetik saya tidak konsen. Pikiran saya mengarah ke pria di depan saya yang baru masuk. Saya segera berkaca. Masakan saya yang notabene lebih kenal Tuhan, yang katanya punya tugas untuk menggarami dan menerangi, malah tidak memberi contoh baik, malah saya yang ‘digarami’. Saya menghela nafas panjang sambil otak saya terus berputar. Ada penyesalan di hati saya sekaligus kesal kenapa bukan saya duluan yang menyapa. Kenapa bukan saya duluan yang mengulurkan tangan, kenapa bukan saya duluan yang pasang senyuman manis. Saya sangat terganggu dengan situasi dan suasana ini. Saya sadar, secara iman saya tidak sportif. Seharusnya saya yang memulai.
Tiba-tiba pemilik cucian memberi tanda ke saya. Saya pun berdiri dari kursi saya, tidak lupa saya pamitan, tersenyum, mengangguk dan keluar. Diam-diam saya berjanji dalam hati: “Perjuangkan sportifitas iman di tengah-tengah situasi apapun”

Komentar
Posting Komentar