8. Tiga Cara jadi Pendengar Hebat

8. Tiga Cara jadi Pendengar Hebat

Amsal 8:1-3, 6 

Bukankah hikmat berseru-seru, dan kepandaian memperdengarkan suaranya?

Di atas tempat-tempat yang tinggi di tepi jalan, di persimpangan jalan-jalan, di sanalah ia berdiri, di samping pintu-pintu gerbang, di depan kota, pada jalan masuk, ia berseru dengan nyaring. Dengarlah, karena aku akan mengatakan perkara-perkara yang dalam dan akan membuka bibirku tentang perkara-perkara yang tepat (ay 6).


Banyak anak Tuhan kehilangan arahan atau jawaban Tuhan karena kehilangan fokus dari apa yang Tuhan janjikan. Maksudnya begini, setelah berdoa untuk sebuah kebutuhan, kita harus memberi perhatian atas jawaban Tuhan. Jawaban Tuhan itu tidak abstrak tapi juga tidak ‘jelas’. Bagian yg tidak jelas ini bukanlah cara Tuhan mempersulit kita untuk mendapatkannya, tetapi ini bagian dari proses Tuhan bagi diri kita. Anda mungkin pernah mendengar ada 3 jawaban Tuhan terhadap doa-doa kita. Pertama, tidak. Kedua, tunggu. ketiga, Ya. Tidak semua doa-doa kita di jawab bukan!?. Kedua, bisa juga di jawab Tuhan tapi menurut cara Tuhan, bukan cara kita. Pokoknya tergantung Tuhanlah. Menurut waktu Tuhan, cara Tuhan, maunya Tuhan dll. Kenapa begitu? Ya Karena Tuhan bisa melihat awal dan akhirnya. Akibat dari doa yang di respon Tuhan sangat berdampak bagi hidup kita. Jadi Tuhan akan menjawabnya untuk kebaikan kita (Roma 8:28: Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah).  


Ayat 6 ternyata adalah jawabannya. Kata “dengarlah…” ini ternyata di dalamnya mengandung arti Ketaatan, perintah, tugas dll. Jadi ini kata aktif. Banyak orang bisa bicara, tapi sedikit yang punya kemampuan mendengar. Padahal kunci berkomunikasi adalah mendengar. Ayat ini ingin menjelaskan kepada kita tentang mendengar tidak pakai telingan, tapi dengan hati. Ya, mendengar itu harus mulai dari hati baru masuk ke pancaindera berikutnya, telinga. 


Sewaktu kecil, saya pernah disuruh ibu ke warung untuk membeli beberapa keperluan dapur seperti gula, tepung dll. Saya meng iya-kan dengan meng angguk-anggukkan kepala tanda mengerti, padahal sebenarnya pikiran saya sedang dipenuhi dengan permainan petak umpet bersama teman-teman sementara ibu menyela memanggil saya. Karena tidak mendengar dengan hati, maka saya lupa dengan barang yang dipesan ibu. Saya pun membeli item yang lain. Bila ibu memesan gula dan tepung maka saya membeli garam dan minyak. Akibatnya ibu sendiri yang kemudian menukar barang yang saya bawa dengan barang yang sebenarnya. Ini terjadi beberapa kali sehingga saya masih ingat dengan cerita ini.

Amsal Salomo meminta untuk mendengar dengan baik. Apa yang di dengar? 

Pertama, Bukankah hikmat berseru-seru, dan kepandaian memperdengarkan suaranya?. 

Amsal ingin memberitahukan bahwa hikmat sedang memanggil. Dengar …..!! hikmat sedang diperdengarkan. Waktu kecil dulu kami akan berhamburan ke jalan hanya untuk melihat iring-iringan mobil ber plat merah, Didahului mobil patrol pengawal (Patwal) yang memekakkan telinga dan menarik perhatian, diikuti mobil Menteri, Gubernur, presiden, atau pejabat negara lainnya. Sambil melambai-lambai tangan kami pun mencoba menebak-nebak mobil mana yang kira-kira duduk pejabat yang dimaksud. Hikmat sedang di bersuara nyaring …..


Di atas tempat-tempat yang tinggi di tepi jalan ……., 

Dengan posisinya di tempat tinggi, hikmat sedang berbicara. 

Kalau Anda naik di gedung yang berlantai tinggi, pemandangan yang kelihatan dari atas menggambarkan sebuah penglihatan yang lebar dan luas. Dari ketinggian tersebut seakan-akan ingin memberitahu keadaan sebenarnya. Anda bisa melihat jalanan yang macet, dan sekaligus menjawab arah mana yang harus ambil. Dari atas sana Anda juga bisa melihat pemandangan Alam yang tidak bisa Anda dapatkan bila Anda ada di bawah. Gunung yang tinggi, lautan luas, pepohonan yang membuat kagum dengan hasil ciptaan Tuhan. Pemandangan dari atas juga bisa membuat Anda membayangkan bahwa orang yang tanpa pengharapan bisa mengakhiri hidupnya hanya dengan sekian detik melompat ke bawah.


“…..di persimpangan jalan-jalan, di sanalah ia berdiri ……”

Sambil menunggu lampu merah, Anda juga bisa berefleksi dan melihat langsung pemandangan orang lalu Lalang. Pemandangan demikian bisa Anda lihat di negara-negara maju yang yang bila lampu nya sedang merah, terjadi penumpukan dari orang-orang yang dengan sabar menunggu lampu berubah hijau. Banyak macam dan ragam orang-orang yang Anda temui. Pengalaman saya sewaktu berada disana, ada yang hanya melihat lampu merah sedang menyala, ada yang mengutak atik handphone, ada yang berdiri sambil membaca, ada yang ngobrol, yang berbicara di handphone, ada yang murung, sedih, gembira dan beberapa karakter lainnya. Terbersit di pikiran, tumpukan begini seperti kita sedang menghadap pengadilan terakhir manusia untuk menentukan dua tempat kekal: Surga yang kekal atau neraka yang kekal. Tiba-tiba nama saya dipanggil. Saya pun maju ….NERAKA !!!, bunyi suara tegas dan berwibawa. Tiba-tiba saya tersentak karena kerumunan orang berjubel dan sedang maju. Rupanya lampu sudah hijau. Saya merenung sesaat, pemandangan tadi membuat saya merenung, bagaimana seandainya mereka belum diselamatkan? 


“Di samping pintu-pintu gerbang, di depan kota, pada jalan masuk, ia berseru dengan nyaring”


Di samping pintu-pintu gerbang, di depan kota, pada jalan masuk sering ada tema.  


Ketika pelayanan di luar kota, saya sering memperhatikan tulisan besar yang terpampang di gapura yakni di depan pintu gerbang kota. Di Sumsel, saya seringkali menemukan ini. Saya jadi rajin kumpulkan kalimat-kalimatnya. Setelah di googling, ternyata daerah-daerah lain juga punya semboyan sendiri-sendiri. Saya kutip sebiasanya:


1. Prov Bengkulu: Sekundang Setungguan seio sekato (Bhs Bengkulu): Seberat apapu pekerjaan jika dikerjakan bersama-sama akan terasa ringan juga.

2. Prov di Yogyakarta: Amemayu Hayuning Bawana (Bhs Jawa): Mengalir dalam hembusan alam

3. Motto Provinsi Jawa Barat: Gemah Ripah Repeh Rapih: Makmur Sentosa Sederhana Rapi

4. Motto Prov. Jawa Tengah: Prasetya Ulah Sakti Bhakti Praja (Bhs Jawa): Berjanji akan berusaha keras dan setia terhadap negara

5. Sloga Prov Jawa Timur: Jer Basuki Mawa Beya (Bhs Jawa): Kesuksesan Membutuhkan Pengorbanan

 6. Slogan Prov Kalbar: Tak Kunjung Binasa

7. Slogan / motto Prov Kepulauan Bangka-Belitung: Serumpun Sebalai: Dari darah yang sama, dari tempat yang sama

8. Slogan / motto Prov Kepulauan Riau: Berpancang Amanah Bersauh Marwah: Memperjuangkan mandate, memegang teguh tradisi

9. Motto Prov. Lampung: sang Bumi Ruwa Jurai (Bhs Lampung): Rumah Tangga yang Agung)

10. Motto Prov Maluku: Siwa Lima: Milik Bersama

11. Slogan Prov Sulawesi Barat: Mullete Diatonangan: Meniti Pada Kebenaran

12. Papua BaratCintaku Negeriku


Bila lebih besar lagi, ada semboyan-semboyan yang dipakai negara-negara. Saya ambil yang bagus-bagus saja ya?


Negara:


1. Amerika: E pluribus unum (Latin), “Out of many, one, “dari yang banyak, muncullah yang satu” dan In God We Trust: Kepada Tuhan Kami Percaya

2. Argentina: En Union y libertad (Bhs Spanyol), “In Union and Liberty”: “Dalam Persatuan dan Kemerdekaan”

2. Bahamas: Forward, Upward, Onward Together: Maju terus, Meningkat terus

3. Belanda: Je maintiendrai (bhs Perancis): I will Maintain: Saya akan mempertahankan

4. Brasil: Ordem e progresso (Bhs. Portugis): “Order and Progress”: Keteraturan dan Kemajuan”

5. Brunei: Always in service with God’s guidance, “Selalu menuruti arahan Tuhan”

6. Denmark: “God’s help, the love of the people, Denmark’s strength”: Pertolongan Tuhan, rasa cinta rakyat, (adalah) kekuatan Denmark”

7. India: “Truth alone triumphs”: Hanya Kemerdekaan Yang Berjaya

8. Indonesia: Bhineka Tunggal Ika (Jawa Kuno): “Berbeda-beda tapi tetap satu”

9. Korea Selatan: “Broadly benefit humanity”: Memberi manfaat yang luas kepada umat manusia”

10. Singapura: Majulah Singapura

11. Spanyol: Plus Ultra: “Lebih jauh lagi” 

12. Yunani: “Eleutheria I Thanatos”: Merdeka atau mati


Masih banyak lagi negara-negara yang punya semboyan atau slogan. Silakan cari sendiri di mbah Google ya!?. Slogan atau semboyan diatas tidak hanya sebutan, tapi percaya atau tidak sangat berpengaruh. Semboyan-semboyan diatas di tulis, dipahat, ditandai di bendera, di lambang negara, di buku-buku dll.  


Saya yakin Tuhan memberikan kepada setiap orang kepintaran (Hikmat & Kebijaksanaan) untuk mengelola ciptaanNya. Dengan hanya mendengarkan dan memperhatikan, kita bisa memperoleh banyak, Karena hikmat “… berseru dengan nyaring!!” 


Ambil contoh para penemu. Bahkan untuk satu penemuan besar, mereka justru tidak mempersiapkan diri. Kadang itu terjadi begitu saja adan akibat kesalahan sendiri (Human error). Contohnya adalah:


1. Charles Goodyear, sang Penemu Ban Mobil.

Charles Goodyear, seorang penemu dari Amerika. Tahun 1839, secara tidak sengaja ia menemukan teknik vulkanisasi karet. Karet biasa akan meleleh saat dipanaskan dan mengeras saat dingin, ia mencoba membuat karet yang mampu bertahan dalam segala cuaca.

Awalnya ia menggunakan magnesium oksida, asam nitrat, tepung perunggu dan kapur perekat. Ekperimennya ini akhirnya tidak berhasil. Kemudian ia mencampurkan karet dengan bahan belerang, lalu mengecatnya ke kain dan tidak sengaja meletakannya di atas kompor. Ternyata karet tersebut memiliki kulit elastis, ia menamakannya “vulcanized” dari kata Vulcan, dewa api Romawi. Penemuannya inilah yang menjadi bahan dasar Ban mobil yang dipatenkan pada tahun 1844. Proses dan teknik pembuatan karet ini kemudian dikembangkan oleh John Dunlop untuk membuat ban berongga dengan bantalan udara.

Meskipun diakhir hidupnya Goodyear tidak menjadi kaya karena penemuannya ini, dan meninggal dalam kemiskinan, namanya digunakan sebagai nama perusahaan ban oleh Frank Seiberling untuk menghormati jasanya, The Goodyear Tire & Rubber Company. Saat ini pabrik ban Goodyear menjadi salah satu pabrik ban terbesar di dunia selain Michelin dan Bridgestone


Peniti
Alkisah, seseorang warga Amerika Serikat bernama Wlater Hunt berutang kepada rekannya. Hunt merupakan pengusaha tekstil di kota Lowville, sebuah kota kecil di lewis Country, New York, Amerika Serikat. Bisnis yang dikembangkannya bergerak di bidang tekstil kain wol dan katun. Namun sayangnya, bisnis yang dikembangkannya tersebut tidak bertahan lama, bahkan Hunt harus berutang kepada temannya sebesar US$ 15. 


Saat itu, sekitar tahun 1849, Hunt sangat tertekan dan gelisah. Ia ingin segera melunasi utangnya. Hunt berupaya untuk mencari cara agar dapat melunasi utangnya. Ia lantas berpikir bagaimana menciptakan sesuatu yang dapat dijual. Hunt sempat menciptakan alat pemintal benang, pengasah pisau, tungku pembakar batu bara, mesin pembersih jalan, bel untuk mobil jalanan, pengeruk es, dan mesin pembuat surat. Namun sayangnya semua itu tidak dapat membantunya menghasilkan uang. 


Hunt terus berupaya mencari cara. Dan suatu ketika, saat Hunt sedang memilin potongan kabel, ia menemukan ide peniti. Saat itu, peniti digunakan untuk mengaitkan kain tanpa kancing. Kemudian pada tanggal 10 April 1849, Hunt mematenkan peniti temuannya. Kemudian, untuk membayar utangnya, paten peniti tersebut dijualnya seharga US$ 400. 


Sebenarnya, benda sejenis peniti sudah ada sejak 14 abad sebelum masehi di Mecenae. Peniti tersebut disebut dengan fibulae. Fungsi fibulae sama dengan peniti yang sekarang ini sering kita pakai yang membedakan adalah ujung peniti yang tak tertutup sehingga sering melukai pemakainnya dan tidak mempunyai per. 


Peniti mulai popular di masyarakat sejak tahun 1970-an di Inggris dan semakin populer sejak foto Richard Hell yang menggunakan peniti dimuat di majalah komunitas punk. Kini desain peniti semakin berkembang dengan berbagai variasi jenis dan warna, bahkan ada peniti yang terbuat dari emas.



 












Komentar

Postingan populer dari blog ini

19. Mengapa Kemenangan Harus Menjadi milik Saya

4. 3 Prinsip Sederhana Dari Hikmat

29. Prinsip Keadilan serta keamanan adalah meterai Raja.